"RIWAYAT FIKTIF TEH JAVANA TEH MELATI"

dok.youtube.com
dok.youtube.com

“Aristotandyo..?” “Hadir, Bu Har,!” sahut yang punya nama, malas-malasan. Huh, mengapa sih setiap dosen bila absensi atau periksa tugas selalu memanggil nama mahasiswa dengan mengurut abjad? Bosen kan, jadi kelinci pertama, korban percontohan melulu,!” rutuk Aristotandyo dalam hati.

“Ayo, bawa ke depan tugas matektur IV-nya,!” lanjut Bu Hara, kedua bola mata dibalik bingkai klasik Cartier lensa Rodenstok-nya cermat mengawal gerak tubuh Aristotandyo yang mulai beranjak setengah terpaksa.
Dok. Kaskus.co.Id
Dok. Kaskus.co.Id

“Bret! Sret! Buk!Clap! Psst..nssst..,” seketika terjadi kesibukan dalam kelas. Buku-buku dibongkar, diktat-diktat dibolak-balik. Bisik-bisik disana sini.

“Atmowidodo Sianipar..,” Bu Hara tak peduli pada bisak-bisik kepanikan yang melanda seisi kelas, tetap melanjutkan absensi sekaligus menagih tugas. Wajib untuknya menjelma menjadi juru siksa tersadis bagi para mahasiswa di semester-semester awal. Bersedia disiksa atau akan bertemu dengannya lagi tahun depan, alias mengulang mata kuliah.Baginya, semuanya itu terserah si mahasiswa.

Menurut Bu Hara, ada baiknya para mahasiswa yang lembek-lembek segera pindah jurusan saja, karena sekolah Arsitek lebih berat daripada sekolah tentara. Dalam Arsitek, keindahan adalah sesuatu yang harus bisa dihitung dengan angka-angka yang pasti!

Keindahan menurut barometer siapa, sih? Tentu saja, keindahan menurut selera dosen! Tiap mahasiswa Arsitek, wajib memiliki kemampuan mereka-reka keindahan macam apa yang ada di benak tiap-tiap dosen. kemudian, mendesign keindahan abstrak itu sekaligus menghitungnya berdasar rumus-rumus eksakta yang telah teruji!

Manusia konyol mana yang sanggup menghitung isi kepala tiap dosen!? Begitu selalu briefing Bu Hara pada setiap angkatan baru, pada saat membuka kegiatan Ospek Arsitektur. Dimana, para calon mahasiswa masih dianggap sekelompok kaum terasing yang amat sangat biadab hingga harus segera dikenalkan dengan peradaban agung yang dibawa oleh Yang Mulia Paduka-Paduka Mahasiswa Senior Separuh Dewa.

Sialnya, Aristotandyo adalah satu dari sekumpulan manusia yang sejak dulu, menurut Bu Hara adalah golongan terkonyol itu! Merasa sanggup melukis sekaligus menghitung keindahan yang ada di tiap-tiap benak para dosen!

Puaaahh.., kalo saja ia tak malu pada ortu juga kawan-kawan, tentulah ia telah berimigrasi dengan sukses sebagai mahasiswa teknik sipil, mesin ataupun elektro atau kalau perlu bahkan, pindah fakultas, informatika atau kedokteran misalnya. Tapi.., egonya terus memompa semangatnya dengan segala bujuk rayu. Bila jadi Arsitek tentulah hidupnya kelak akan enak, terkenal, bla..bla..dan bla-bla.
dok. iuzhculesblog.blogspot.com
dok. iuzhculesblog.blogspot.com

Harapan kedua orang tuanya, ia, Aristotandyo harus mengikuti jejak anggota keluarga jauhnya yang telah lebih dulu terkenal di berbagai bidang. Namun, semua saudaranya itu belum ada juga yang pernah beken di jalur Arsitek. Tengok saja, TanMalaka, EdyTanzil, TanTjengBok, TanriAbeng, TanoeSoedibyo, TantowiJahya, VeronicaTan dan TanEkTjwan.

Pesan mamanya, kelak sebagai Arsitek, nama Aristotandyo haruslah sebeken seni musik TanJieDor. Kalau perlu bahkan, sewangi minyak rambut TanCho.

Lamat-lamat suara dominan Bu Hara mulai menghilang dari gendang telinganya. Pada kelopak matanya, sosok rekan-rekan sekelas juga ikut memblur. Perlahan diktat hijau tua membias kabur bermetafora menjadi daun-daunan hijau kebun teh Cijalu Subang di ketinggian 2000 meter.

Ingatan Aristotandyo melayang pada dua tahun silam. 

“Siapa itu,? Mengapa tengah hari bolong begini masih ada mahasiswi baru yang berpanas-panas mengenakan topi polka putih sambil berdendang seorang diri memetik pucuk-pucuk daun teh,?” tanya hati Aristotandyo memandang lembah teh yang berada tepat dibawah bukit tempatnya istirahat selonjoran bersandarkan sebatang pinus. Lelah betul badannya karena sedari pagi harus selalu mematuhi segala titah senior-seniornya pada acara perkemahan dalam rangka penutupan Ospek ini.
dok. tripdomestik.com
dok. tripdomestik.com

“Lho, kemana tadi gadis bertopi polka itu? Sepertinya indo, sayang wajahnya tak begitu jelas! Sudah ini mata silau kena matahari, mana tuh cewek pake topi, cukup jauh pula,!” bathin Aristotandyo, sesal karena semilir angin telah membuatnya lengah sejenak, terlena keindahan perkebunan teh.

—||—

“Kamu mahasiswa baru yang tadi siang ketiduran dibawah pohon pinus diatas bukit itu, kan?” sebuah tepukan lembut datang dari belakang punggung Aristotandyo.

“Deg!Plash!” Jantung Aristotandyo kontan berdegup kencang tak peduli selembut apapun tepukan si penanya. Secepat kilat dibalikan badannya, “Kamu mahasiswi baru yang tadi siang memetik pucuk-pucuk daun teh di lembah itu, kan?”

Sang mahasiswi hanya menganggukan kepala, wajahnya kemerahan diterpa bias api unggun yang dinyalakan pasca jam 12 malam.

Seluruh peserta membentuk lingkaran. khidmat mendengarkan bla-bla demi bla bla wejangan para senior tetapi, tidak dengan Aristotandyo!

“Hmh.., 162 senti 55 kilo, indo, cantik, rambut jagung Julia Robert, topi putih polka ala meneer, jaket kulit Nazi, untaian melati menghias leher dan secangkir teh panas ditangan kanan” celetuk hati Aristotandyo.

“Aristotandyo, Arsitek, semester I..,” ujarnya seraya mengangsurkan tangan.

“Susan.., Sipil, Semester I..,” jawab sang gadis tidak balas menjabat, malah mengangsurkan cangkir tehnya.

Aristotandyo mengernyitkan kening.

“Untuk kamu menghilangkan hawa dingin pegunungan di pagi buta ini, minumlah,!” tegas Susan menghilangkan keraguan Aristotandyo.

“Ah, terima kasih, San. Dan kamu sendiri..?”

Cangkir teh kaleng walau dengan sedikit sungkan akhirnya rela berpindah tangan.

“Aku sudah minum, tadi jam 10_an malam.”

“O, gitu. Aku minum tehnya ya,?” tanpa menunggu izin lagi, Aristotandyo mencicipi secangkir teh panas itu. “Wih, enak betul! Rasa melati, ya San?”

“Iya, aku meraciknya sendiri di tenda dapur umum, tadi. Orang tuaku yang mengajarkan resepnya. Mereka menyebut teh buatannya, Teh Javana. Hasil olahan hanya dari pucuk daun teh terbaik yang tumbuh di lereng pegunungan pada ketinggian lebih dari seribu meter.”

“Tapi.., bukankah kamu baru tadi siang memetik daun tehnya? Kok bisa, hanya dalam beberapa jam saja menyeduh teh senikmat dan seharum ini?”

“Tolong mahasiswa baru perhatian, ya! Jangan ngomong sendiri…!” Nyaring terdengar peringatan seorang mahasiswa senior yang tengah memberi wejangan melalui toa.

Aristotandyo tak peduli. Pikirnya, Ia tokh tak bicara seorang diri. Bukankah Ia tengah berbincang dengan Susan? Cewek paling cantik di tengah-tengah lembah Tangkuban Perahu ini!
dok.pribadi
dok.pribadi

“Resep Teh Javana akan tersimpan rapi hingga kamu kelak telah menjadi Direktur Marketing sebuah perusahaan yang memproduksi minuman kemasan. Nanti di saat itu, resep Teh Javana ini, barulah terbongkar dan akan digemari setiap orang.”

“Kamu ngomong apa sih, San? Masak’kan aku bakal jadi Direktur Marketing minuman kemasan sementara kuliahku saja Arsitektur? Lagian.., kamu kok sok tahu masa depan, sih? Ahli ramal, ya hehehe?” ledek Aristotandyo mencoba bercanda mencairkan suasana. Sebenarnya, sedari tadi sedang berlangsung gempa 9 skala richter di dalam hatinya.

“Diperkebunan teh inilah aku dibesarkan. Rumahku ada di dalam pagar lingkungan pabrik teh, dibawah bukit-bukit teh ini, sebelum jalan mulai menanjak.”

“Apa.., besok kamu akan mengunjungi rumahmu sebelum kita kembali ke Jakarta, San?”

“Hihi, nanti subuhpun aku pulang dulu ke rumah. Pagi, aku tidak ikut rombongan ini pulang. Sorenya barulah aku kembali ke Jakarta”

“O.., kalo gitu besok pagi sebelum rombongan kembali ke Jakarta, aku mau mampir ke rumah mu, ya San?”

“O.., silahkan. Nanti ada Kang Darma, penjaga pabrik yang akan mengantarmu ke rumahku.”

“Tapi kalau aku mampir ke rumahmu, ngak akan ada yang marah kan, San?”

“Maksudnya?” “Ya, siapa tahu kamu sudah punya pacar…”

“Hihihi, kamu ini. Baru pertama kali bertemu sudah kesana-sana ngomongnya. Memang kamu mau jadi pacarku?”

“Hegh!” Aristotandyo tersodok, tak disangkanya Susan bicara tanpa tedeng aling. Menutupi kegugupan ia menjawab, “Ya, siapa juga yang tak mau, kalau bisa jadi pacarmu?”

“Ya sudah, kalau kamu serius mau mampir, datanglah ke rumahku besok pagi. Sekarang, aku mau pulang ke rumah lebih dahulu.”

“Lho, kamu kok berani meninggalkan acara, ngak pakai izin dulu sama senior-senior?”

“Biar saja, tokh mereka lagi sibuk. Eh, sekalian itu cangkir tehnya buat kamu saja. Jangan dibuang ya! Itu cangkir kaleng teh, antik banget, lho. Tapi, teh buatanku Jangan ngak dihabiskan, ya!”

“Iya.., iya.., lah wong Teh Javana senikmat ini, masak iya sih ngak habis,” sahut Aristotandyo sembari kembali menyeruput cangkir tehnya.

Ketika ia kembali mengangkat wajah tak dilihatnya lagi Susan. “Eh, kemana si Susan tadi? Kok cepat amat sih hilangnya? Wah, topi polkanya juga sudah ngak kelihatan..,” Aristotandyo celangak-celinguk kebingungan.

—-||—-

Aristotandyo tak tidur semalaman. Tak sabar hatinya menunggu fajar, ingin segera menuruni lembah perkebunan teh, menjumpai Susan di rumahnya.

Tepat, ketika jarum pendek jam dipergelangan tangannya menunjuk angka enam, iapun segera meninggalkan tendanya. Tak dipedulikannya rekan-rekan setendanya yang masih terbuai mimpi karena kecapaian setelah mengikuti acara api unggun semalam suntuk.

Tak sampai setengah jam, Aristotandyo sudah berdiri depan gerbang besi setinggi dua meter milik pabrik teh satu-satunya di daerah itu. Belum sempat ia mencari bel, gerbang itu sudah bergeser membuka.

Seorang berpakaian sekurity berkalung sarung kumal kotak-kotak menyapa ramah, “Ahk, karyawan baru, ya Dik? Pagi betul.., jam kerja baru dimulai jam setengah sembilan, Dik.”

“Ow.., bukan Pak! Saya hanya mau main ke rumah Susan. Katanya, rumahnya di dalam pabrik ini, Pak?”

“Susan? Disini tak ada rumah, Dik! Disini pabrik teh!”

“Lho, gimana sih? Apa Bapak tahu yang namanya Kang Darma?”

“Saya sendiri, Dik.”

“Oh, maaf Bapak sendiri Kang Darma, tokh! Begini lho Kang, Susan bilang sama saya semalam, kalau mau kerumahnya di dalam pabrik teh ini, biar Kang Darma saja yang antar, begitu Kang…”

Kang Darma tertegun, lekat-lekat ditatapnya Aristotandyo yang terkesan sok kenal sok dekat.

“Kalau begitu mari, Dik. Saya antar ke rumahnya Susan. Cepatlah masuk, mumpung hari masih pagi, belum ada karyawan pabrik yang datang.”

“Akhirnya, orang tua ini tak bisa lagi mengelak, mau mengantarkan ku juga,” pikir Aristotandyo mengulum senyum kemenangan seraya melangkah memasuki areal pabrik teh.
dok.kaskus.co.id
dok.kaskus.co.id

Keduanya melangkah dalam diam. Melintas depan kantor, area utama pabrik, gudang dan tiba di bangunan paling belakang yang kusam.

Seboeah roemah moengil bergaya tempo doeloe jang dindingnya soedah jebol disana sini tempat bergantoengnya berjoeta sarang laba-laba.

“Dimana Kang, rumahnya Susan,?” tanya Aristotandyo keheranan karena depan biji matanya, sudah tak tampak lagi ada bangunan yang lain.

Kang Darma tidak menjawab hanya kerling matanya mengajak Aristotandyo untuk tetap teruskan langkah menembus ilalang rerumputan pohon-pohon perdu yang dibiarkan tumbuh liar.

Aristotandyo semakin keheranan, bagaimana mungkin gadis secantik Susan setiap hari harus melewati area ini pulang pergi? Apa tak takut digigit ular?

Tak ingin kehadirannya dianggap sepi, angin sesekali semilir mondar-mandir membawa aroma melati.
Daun-daun perdu ikut unjuk gigi, genit bergoyang dalam tarian mistis.

“Disitulah rumahnya Susan, Dik..,” tunjuk Kang Darma ke arah sebatang perdu bunga melati yang cukup rimbun.

“Dimana, Kang,? Aristotandyo tak lagi bisa menyembunyikan keheranannya. Dipincingkan matanya, memastikan arah yang ditunjuk.

“Itu, tepat dibawah pohon melati itu.., tengoklah kesana..,” jawab Kang Darma.
dok.noevita.blogspot.com
dok.noevita.blogspot.com

Penasaran, Aristotandyo menghampiri dan menyibak rerimbunan daun-daun pohon melati. Matanya seketika menatap tiga onggokan batu nisan yang telah miring dan tertutup tanah liat kering.

Seuntai kalung melati yang masih segar bertengger pamerkan diri, melingkar manja pada salah satu batu nisan.

Aristotandyo segera mengibas-ngibas tanah kering yang menutupi batu nisan itu, pekik hatinya, “Tidak salah lagi, ini kan kalung melati yang dipakai Susan semalam..”

Walau bulu kuduk telah meremang, matanya tak berkedip ketika tulisan di batu nisan itu mulai terbaca.
Susaene van de Harre van Javana…
Pohon melati berputar…
Dunia berputar…
Mentari berputar…

“Yaaah.., tolong jangan pingsan disini, Dik..,!” teriak Kang Darma panik menyongsong tubuh Aristotandyo yang mulai limbung.

—||—

Dalam ruang kantor bergaya Victoria, tepatnya diatas meja kerja besar ukiran kayu oak da Vinci, sebuah cangkir kaleng bergrafir bunga-bungaan pasrah tak berdaya, dipermainkan oleh jemari yang terhias cincin mas putih de Beers bertahta blue safir belah ketupat.
dok.cahayameubel.com
dok.cahayameubel.com
Jatuhkan tatapan kosong pada cangkir teh antik berbahan kaleng itu, Aristotandyo menghela napas panjang,”Fiuiihh…” Duduk di kursi merah marun kulit lembu bersandaran tinggi, ia baru saja terkenang 20 tahun silam pada masa-masa awal mengikuti perkuliahan Arsitektur.

Tak pernah diduga oleh Aristotandyo, setahun yang lalu, pemilik perusahaan tempatnya bekerja telah mengakuisisi pabrik teh dimana batu nisan Susan berada.

Menurut cerita orang yang didengar oleh Aristotandyo saat ia baru siuman dari pingsannya, Susan, putri pemilik pabrik teh itu, tewas terbunuh setelah sebelumnya diperkosa terlebih dahulu di tengah-tengah lembah perkebunan teh pada masa-masa awal revolusi kemerdekaan.

Saat pabrik sedang renovasi dan berbenah diri pasca akuisisi, seorang pekerja menemukan sepucuk amplop dalam laci sebuah meja jati rusak.

Amplop tersebut dengan setia menyimpan selembar kertas buram tua berisi tulisan tangan dalam bahasa Belanda tentang cara meracik Teh Javana yang ditandatangani langsung oleh Haere van Javana, keluarga campuran Belanda-Pribumi, pemilik lama pabrik.

Tentu saja, Boss-nya Aristotandyo tak menyia-nyiakan penemuan itu, segera memerintahkan untuk dilakukan serangkaian riset guna menghasilkan : *”Teh Javana! Bukan Cuma Jual Cerita…”*
Paparan TEH JAVANA TEH MELATI oleh Bapak Aristo Kristandyo head of marketing beverages wings food
Paparan "TEH JAVANA TEH MELATI" oleh Bapak Aristo Kristandyo head of marketing beverages wings food

Antara percaya dan tidak atas ramalan Susan di masa lampau, Aristotandyo keheranan ketika ia, 5 bulan lalu ditunjuk oleh Bossnya untuk menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap pemasaran “Teh Javana! Teh Melati Citra Rasa Indonesia” dalam kemasan ready to drink yang dibandrol Rp.3000,-/botol.

“Tok..tok..,” dua ketukan pada gypsum partisi setinggi dada pembatas ruangan membuyarkan perhatian Aristotandyo dari layar laptop, satu-satunya benda yang ada diatas meja kerjanya. Meja kecil tatakan yang jadi satu dengan bangku lipat kuliah Chitos hitam.

“Ya, Miss Elasilva..,?” tanyanya menaikan alis, melihat siapa yang datang.
dok.murahmantapjaya.com
dok.murahmantapjaya.com

“Apa Bapak sudah selesai membaca tulisan itu? Bagaimana? Apa sebaiknya, penulisnya kita tuntut secara hukum saja, Pak,?” berondong Elasilva bertumpu tangan diatas partisi aluminium pembatas. Sebagai PR Manager tentu saja, ia merasa turut ikut bertanggung jawab atas nama baik Teh Javana yang selama ini telah nangkring bertengger di ranking 5 besar nasional minuman kemasan ready to drink.

Melirik kembali layar laptopnya, Aristotandyo bersungut-sungut dalam intonasi menahan geram, “Ini, saya baru saja selesai bacanya. Tulisan berjudul ‘Riwayat Fiktif Teh Javana Teh Melati” ini, memang menjengkelkan! Sayalah ditulisnya begana-begono! Pernah ketemu hantu, punya kantor mewah, juga cincin Safir.., Tapi..,”.
dok. Aristo Kristandyo | LinkedIn
dok. Aristo Kristandyo | LinkedIn

Mengarahkan telunjuk pada layar laptop sembari geleng-geleng kepala, Aristotandyo akhirnya mengambil keputusan, “Masak iya sih, kita menuntut tulisan yang memang benar-benar sangat amat kebangetan fiktifnya, seperti ini!”
—-oo0oo—-

Gagalnya Mereview Maybelline ClearSmoothAllInOne!

1431664012527545144 
 
Maybelline ClearSmoothAllinOne - One in All Ladies Heart
Membeli kosmetik kemudian membalurnya di wajah, bukanlah perkara main-main. Wajah kita bukanlah tempat ujicoba segala macam merk kosmetik. Alih-alih tampil sempurna tapi malah bisa jadi derita tak berkesudahan.
Bukan tak mungkin, kulit wajah yang rentan dapat mengalami alergi ataupun iritasi sehingga perlu penanganan medis yang serius. Kita, kaum hawa, pasti pernah mendengar selentingan orang tentang Maybelline?
Siapa yang tak kenal sih, produsen make up tersohor ini? Tapi..,??? Pernahkah kita, kaum hawa berdandan memakai CLEAR SMOOTH ALL-IN-ONE POWDER produksi dari Maybelline New York - Indonesia?

Bila belum pernah, ini sebuah tulisan yang menceritakan sedikit pengalaman merias diri dengan bedak Powder keluaran Maybelline - Indonesia yang teranyar itu. Bila sudah pernah, anda dapat membandingkannya dengan sekelumit cerita non skenario ini.

Photo Dok. Maybelline Indonesia
Photo Dok. Maybelline Indonesia

Sebagai wanita kelahiran Indonesia, sudah pasti sedikit banyak saya masih memegang filsafat ketimuran. Seperti ;
  • »”Tong kosong nyablak bunyinya” artinya, semakin gencar berpromo$i semakin terlihat itu cuma aksi tanpa i$i.

  • »”Ada ubi ada talas ada budi ada balas” artinya makin banyak promosi harga kosmetik makin tinggi sedangkan kuantitas dan kualitas terpaksa akan semakin diminimaliskan guna menekan belanja modal.

  • »”Juwita jam 3 malam” artinya, riasannya harus berlapis-lapis, boros!

  • »”Bagai punguk rindu bulan” artinya, maunya wajah bersinar tapi malah jerawatan.

  • »”Pek Tay rasa coklat” artinya, perasaan makin cantik padahal orang lain lihat makin kusam.

  • »”Lain ladang lain hamanya” artinya, lain kulit muka lain kosmetiknya.

  • »”Pucuk dicinta ranting berbuah” artinya, makin laris maka, produsen makin besar kepala otomatis hargapun makin mahal.
Ah baik, okelah sudah saatnya saya uji bedak dari Maybelline ini. Bukankah kesan pertama begitu menggoda selanjutnya jangan beli kucing dalam karung?
Photo.Dok. Pusat Kosmetik.com
Photo.Dok. Pusat Kosmetik.com

Langsung saja, saya beranikan wajah saya jadi wadah tempat untuk menguji itu produk Powder yang baru saja seumur jagung diluncurkan oleh Maybelline-Indonesia ini. Mengapa saya berani ambil resiko, padahal Tuhan hanya memberikan saya satu wajah tanpa ada cadangannya sama sekali?
Tidak lain karena, saya kenal seorang Dokter kulit bertarif mahal yang buka praktek di negeri Holland. Bukannya sombong, pasalnya kalo beliau sedang pulang ke Jakarta, saya bisa konsultasi segala hal yang berkaitan dengan kulit dan kecantikan dengan gratis-tis-tis. Pembaca jangan iri dulu, itulah salah satu rezeki saya sebagai Blogger.
E..waitaminute, tapi nanti dulu.., mengapa harus ambil resiko tinggi kalo ada yg pilihan dengan resiko lebih sedikit. Bukankah saya punya FBnya sang Dokter? Kalo gitu, saya send private massage aja ke beliau tentang bedak dari Maybelline ini.
Eladalah.., malang tertolak untungpun bisa diraih. Tak dinyana tak diduga, si Dokter lagi o’el. Gayung bersambut, meluncurlah segala perkara yang saya ingin lakukan dengan bedak baru ini.
Setelah seru berBla’ bla dan bla, beliau akhirnya bilang, “Memang, saya pribadi pakai bedak Powder itu. Karakter kulit kamu kan mirip dengan karakter kulit saya. Udah tinggal pake aja, pasti kamu cocok deh! Lagi pula, memang bedaknya natural, kok! Hampir cocok pada semua karakter kulit berbagai usia! Saya pribadi kalo ke Jakarta pasti memborong bedak itu.” 

Bedak Maybelline Clear-Smooth-All-In-One- photo dok. Maybelline Indonesia 
 
Bedak Maybelline Clear-Smooth-All-In-One- (photo dok. Maybelline Indonesia)
Nah, lho! Niat mau uji produk dengan segudang filsafatpun seketika langsung batal-tal-tal. Ternyata, bedak Powder Maybelline AllinOne sudah ada disetiap hati wanita bahkan, sebelum pagi ini saya sempat berdandan!
Wuah, Myabelline AllinOne Powder, maaf BeGeTe ya! Saya gagal mereview kamu’, nih! Sebab, langsung saya pake aja! Mengenai hasilnya… Owh.., ladies, silahkan coba sendiri aja deh, pasti ngak beda sama saya, dijamin puas!
Maybelline CLEAR SMOOTH AllinOne OneInAllLadiesHeart!

SO...? FRAGRANCE by ME

Para pejantan kemang kerap sok tangguh tetapi survey Durex telah membuktikan 7 dari 10 kejantanan pria ternyata mengalami ejakulasi dini. Tak ingin terbantah, survey juga merilis 7 dari 10 wanita selalu kena tanggung ketika bercinta. Nah, lho!
Foto Bersama Pecinta So...?
Foto Bersama Pecinta So…?
Parahnya, ilmu mahir bercinta untuk para pejantan hampir sama sekali tak mengalami perkembangan sejak ribuan tahun lalu tatkala Kamasutra mulai dikenalkan.
Bahkan, seiring dengan meningkatnya stress karena karier maupun pekerjaan makin membuat kejantanan pria tampil lebih cepat terkulai. Belum lagi daya dukung alam yang terus menurun, dari hari ke hari bertambah banyak bahan polutan dan makanan tak sehat yang diserap oleh tubuh.
Wajarlah, makin banyak betina yang curhat, kejantanan pasangannya kini tak lagi bisa diharapkan untuk tampil jantan. Bukannya sedikit lho, yang sudah coba-coba mencari diluar pasangannya namun, selingkuh itu belum tentu indah. Selingkuh sama yang setara umurnya saja memble apalagi bila seranjang dengan yang lebih tua!?
Sedangkan yang lebih muda, punya kuantitas, mampu menyergap berkali-kali tapi miskin kualitas. Terkenal tangkas, cepat bangkit kembali tapi juga selalu buru-buru ingin cepat kelar! Nyaris K’O disetiap ronde!
Beberapa waktu lalu, para pejantan sempat terhibur dengan hadirnya obat-obatan yang mahal harganya. Tetapi efeknya? Bisa terus bertambah dosis seiring berjalannya waktu, Kecanduan atau malah mengalami ketergantungan! Fase akhirnya bisa sangat Fatal! Tanpa obat berdosis tinggi, banyak pejantan hanya jago berkokok namun tak lagi berani berbuat! Bukan menjadi gentleman macho tapi, pejantan Matlo! Mati dan loyo!
Sebenarnya, tanpa ramuan ajaib pendongkrak libido sekalipun, secara alami saja, sudah cukup mudah untuk membangkitkan macam ragam obsesi nakal. Sekedar hembusan angin secara tak diduga datang yang menyingkap sedikit saja bagian bawah rok, bisa membuat darah pejantan berdesir hebat. Uniknya, desiran darah itu bisa berlipat ganda bertambah-tambah deras hingga aliran darah pada pipa kapiler di dalam instrumen kejantanan yang begitu tersembunyipun serta merta dapat menggelembung begitu saja dengan hadirnya: So…? (http://uk.sowithattitude.com/)
Sosok feminin kelahiran London 1990 ini semakin matang dan menarik. Begitu kuatnya pesona yang dimiliki hingga dipastikan para pria pejantan yang ada didekatnya, spontan akan dirasuki oleh gairah primitive pada tingkatan nyaris tak terbendung.
Kenal lebih dekat dengan So..? The PlayRoom Cordoba, Pantai Indah Kapuk
Kenal lebih dekat dengan
Bagi So…? Fragrance tak mau jual mahal bukan berarti murahan. So…? Walau terasa begitu lembut menggelitik hasrat pejantan tetapi, begitu berani tampil menggoda dengan bermacam variasi yang memabukan;
–*So…? Brit, dalam goresan warna marun hasil racikan sempurna dari kuntum Mawar Merah, Amber, Vanila dan Cranberry. Mengedepankan kesan kemandirian bagaikan silhouette ‘TheBanquet’ yang mengendap ganas di balik tembok mistis kota terlarang, menunggu saat yang tepat untuk balik memangsa sang pemangsa.
–*So…? Desirable, berbalut warna pink adalah puncak penyatuan eksotika Musk, Freesia, Magnolia, Apel dan Jeruk. Menawarkan romantisme yang akan terekam sepanjang masa laksana ‘PretyWoman’ mendayuh Gondola membelah Venesia meninggalkan pejantan yang terkapar setelah tergiur tanpa daya.
–*So…? Kiss Me, pesona guratan jingga yang bersumber dari perpaduan ajaib BlackCurrant, Citrus, Vanila dan Musk. Melangkah mantap bergayut kemajuan modernitas nan sesak energi merangsang vitalitas. Bak ‘Titanic’ siap menerjang ombak Atlantik, menjebol dinginnya karang salju milik tiap pejantan hingga takkan peduli walaupun harus bertaruh nyawa demi tuntasnya gelora.
–*So…? Sensual, terselubung corak ungu penuh esensi tiada banding sebagai campuran nan mewah dari Mawar Merah, Violet, Vanila dan Patchouli dilengkapi semerbak Cendana. Anggun tapi padat sensasi. Agung tapi sangat seksi. Sedikit aksi tapi hasilkan banyak reaksi. Ibarat ‘HelenOfTroy’ memperuncing rivalitas yang dengan sadis tega menjebak pejantan untuk saling memangsa.
SO...? Up to you... With Tea or XoSupreme
Menurut Ms. Novia dari Sogen Asia saat ditemui di ‘The Playroom Cordoba Pantai Indah Kapuk’ (18,4/15), “So…? Begitu sontak membangkitlkan bara sensitivitas. Mengguncang libido tersembunyi dalam relung terdalam para pejantan tua-muda. Niscaya kesemuanya sama-sama lupa usia!”
Di tempat yang sama, Beauty Bloogger Ms. Istiarina juga sempat berbisik membocorkan, “So…? Berbekal intuisi luar biasa, tanpa ampun akan mampu menyeret imaginasi liar pejantan agar semakin buas, garang dan ganas! WoWw, sedapnya,…coba, deh!”. Ms. Istiarina menambahkan sambil tersenyum penuh mistis, “So…? Anda akan kecemplung dalam cakrawala aurora cinta tanpa batas diufuk mega, karena So…? Hmm.., senjata rahasia betina selera pejantan!”
Dan...So...? pun diluncurkan! (Dok. Pribadi
Dan…So…? pun diluncurkan! (dok. Pribadi)
Tapi ingat, jangan ajak-ajak  So…? bila anda ditengah kerumunan gerombolan pejantan punya orang, dijamin mereka menelan liur sebagai indikasi tak lagi sanggup untuk tetap setia! Ngerinya, bisa saja wajah cantik anda ternoda bersit luka cakaran dari kuku sang betina yang terbakar cemburu!
So…? Dapat dijumpai di hampir disetiap jaringan ritel besar seperti carefour, jaringan franchise waralaba dan juga jaringan Guardian. So…? Memang sengaja diciptakan untuk mudah ditemukan, guna menjamin satu kepastian :
Me and So...?
Me and So…?

“Karena ”So…? Musim bercinta berlangsung sepanjang tahun!”


Brand pewarna rambut no. 1 di dunia, L'Oreal Paris, mempersembahkan produk terbarunya yaitu excellence fashion untuk menjawab kebutuhan para wanita Indonesia yang ingin memancarkan kecantikan terbaiknya melalui tampilan warna rambut sehat dan berkilau dengan cara mudah dan praktis. Terinpirasi dari trend warna fashion terbaru, excellen fashion hadir dalam 5 pilihan warna yang cocok untuk wanita Indonesia. Dalam rangka meluncurkan 5koleksi warna rambut yang berlangsung pada november 2014 dan bertempat di L'Oreal Academy, DBS Bank Tower, kuningan jakarta turut memperkenalkan Hair Colorantology, sebuah panduan memilih warna rambut sesuai dengan karakter dan kepribadian. Yaitu ; know your colour, match your colour, transformation, the excellent you and colour care.

Yannis rodocanachi, GM consumer product division PT. L'Oreal Indonesia mengatakan, "kredibilitas L'Oreal Paris sebagai produsen pewarna rambut nomor 1 di dunia bukanlah hal yang serta merta kami dapatkan. Semula bermula pada tahun 1907 saat pendiri L'Oreal yang tak lain adalah seorang ahli kimia bernama Eugene Schueller berhasil menciptakan produk pewarna rambut pertama di dunia melalui keahlian dan ketekunannya. Eugene berhasil membantu para wanita untuk lebih percaya diri dalam penampilan kecantikannya melalui tampilan rambut yang menawan.

Seorang Color & Image consultan Irma Hardisurya, yang ditemui di acara peluncuran Excellence Fashion menjelaskan warna merupakan katalis yang dapat mengekpresikan perasaan ataupun suasana hati seseorang.
Turut hadir Johny Mallato hair stylist&colorist berpengalaman, mengatakan untuk mendapatkan tampilan yang maksimal, ditahap selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah melakukan pewarnaan rambut menggunakan produk yang tepat, dimulai dengan menentukan warna yang sesuai berdasarkan tes yang telah dilakukan di tahap sebelumnya. Kunci dari penampilan rambut berwarna yang menawan adalah warna yang terlihat nyata, berkilau dan juga terlihat sehat.

Group Product Manager L'Oreal Paris hair&Men Category mengatakan, "para wanita kini tak perlu kawatir rambut menjadi kering dan rusak karena efek pewarnaan. Excellen fashion merupakan satu-satunya pewarna rambut di Indonesia yang dilengkapi dengan teknologi perlindungan dan perawatan rambut maksimal yaitu triple - care yang terkandung pada pre-color serum (serum perlindungan rambut sebelum pewarnaan), coloring creme pro-keratin(perawatan vitalitas rambut saat proses pewarnaan) dan protektive conditioner (konditioner perawatan rambut setelah pewarnaan). Dengan rambut yang sehat, warna yang keluar pun akan terlihat semakin indah.

Langkah penting terakhir yang harus diingat oleh para wanita adalah Color Care yaitu melakukan intensif dengan produk khusus untuk rambut berwarna. "Setelah pewarnaan, agar warna lebih tahan lama dan rambut tetap terjaga kesehatannya, gunakan shampoo,conditioner dan masker khusus rambut berwarna dengan kandungan nutrisi yang dilakukan oleh rambut. Gunakan masker 2minggu sekali serta hair oil pada saat penataan untuk perlindungan maksimal,"saran Johny.

Dengan menghadirkan 5langkah terakhir Hair Colorantology yang terdiri dari know Your Color, match Your color, Transformation, The Excellent you dan Color Care, L'Oreal Paris berharap wanita Indonesia dapat menemukan warna rambut yang tepat dan sesuai dengan karakter masing-masing. Segala informasi dan panduan pengerjaan sengaja dibuat semudah mungkin agar mereka dapat mengerjakan sendiri di rumah, sehingga mereka bisa lebih percaya diri dalam menampilkan kecantikan terbaik dari dalam dirinya melalui warna rambut kapanpun dan dimana pun. Inilah inovasi terbaik terbaru dari L'Oreal Paris, karena kami selalu percaya setiap wanita pantas mendapatkannya hanya yang terbaik,"tutup Riza.

QZ 8501 "MARTIR TERAKHIR!"

keepupwithmrsjones.com
keepupwithmrsjones.com
Menyusul musibah banjir, topan, erupsi gunung berapi, kebakaran dan longsor pada banyak tempat di Indonesia, kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501 menutup tahun 2014. Indonesia tak henti dirundung duka, terlebih di awal tahun 2015 ini tak satupun penumpang Air Asia QZ 8501 diketemukan selamat.
Bukan maksud berjaya diatas derita. Pasca petaka, kerja keras dari BASARNAS memang layak panen pujian ditengah tangis, kesedihan, kekecewaan dan keprihatinan. OPERASI PENCARIAN memang dapat dikatakan berhasil tapi bagaimanakah dengan OPERASI PENYELAMATAN KECELAKAAN UDARA?
Mengapa tak satupun dapat diselamatkan?  Mengapa harus menunggu keterangan pers terlebih dahulu baru bergerak mencari setelah berjam-jam kehilangan kontak bahkan sampai hari telah berganti?  Bukankah mustahil setelah berjam-jam kehilangan kontak, pesawat masih bisa ditemukan dalam keadaan selamat tak celaka?  Mengapa navigator bukan hanya gagal mendeteksi cuaca buruk tetapi juga gagal mendeteksi keberadaan pesawat, bukankah GPS bahkan bisa menentukan titik kecil lokasi terjadinya kecelakaan sepeda motor?
Mengapa tak terlihat satupun pelampung QZ 8501 yang terapung?  QZ 8501, masih ada 1000 pertanyaan lengkap dengan sejuta sesal tapi tak butuh satupun jawaban hanya perlu beberapa perbaikan!  Sebagai awam dunia penerbangan, kecuali hanyalah sebagai pengguna layanan transportasi udara belaka, demi keselamatan penumpang udara dikemudian hari, penulis beropini :
1. Tak perlu menunggu keterangan pers, ketika pesawat hilang kontak, dengan dana negara yang dapat dipertanggungjawabkan belakangan, BASARNAS berwenang segera mencari pada menit pertama selama 7 hari meski tanpa perintah siapapun dan BASARNAS juga berhak memerintahkan instansi negara manapun untuk menggerakan alat-alat pencarian/penyelamatan yang dimilikinya. Instansi yang berani menolak perintah BASARNAS dapat diajukan kedepan peradilan HAM.
2. Tak peduli secanggih apapun bagasi pelampung otomatis yang tersedia selama ini, setiap penumpang ketika memasuki pintu pesawat wajib langsung dikenakan pelampung yang mudah untuk digelembungkannya sendiri ketika keadaan darurat dan setelah mendarat dengan selamat pelampung wajib dikembalikan.
3. Perlunya radar dan layar monitor cuaca disetiap menara ATC.
4. Perlunya monitor GPS yang memantau setiap route keberadaan pesawat full time.
5. Pada setiap menara ATC, Perlunya keberadaan personil BASARNAS yang berhak mengontak Kepala BASARNAS 24 jam.
6. Pemandu route tidak boleh memandu lebih dari 5 pesawat dalam satu waktu.
7. Setiap pergerakan pesawat dalam wilayah NKRI, radar militer wajib mengetahui secara detil dan pasti tanpa out of service sedetikpun.
QZ 8501 adalah martir terakhir. Harapan penulis, semoga para petinggi negeri memiliki opini lebih bagus lagi daripada opini penulis sendiri demi kemanusiaan dikemudian hari.

Bubat Cinta Agung yang Terbabat

sultonenterjava.deviantart.com
Jadi rombongan Sunda sudah tiba di Pesanggrahan Bubat, Panglima?” tanya seorang lelaki berusia enampuluhan lebih sedikit, penuh wibawa. Tatap matanya tajam menyambar dua orang yang baru saja datang untuk menyampaikan laporan.

“Mantri Besar Prapanca yang menyambut dan menempatkan tetamu di Pesanggrahan Agung Bubat itu, ya Mapatih Gajah Mada,” jawab seorang diantara yang baru datang seraya bersikap santai mengambil tempat duduk bersebelahan dengan tuan rumah. Tindakannya diikuti rekannya, duduk santai di teras rumah megah yang berhadapan dengan panorama Gunung Anjasmara yang berdiri gagah di tepi batas siluet biru cakrawala kotaraja.

Gajah Mada segera membalik dua cangkir giok hijau dari posisi tertelungkup. Satu tangannya meraih gagang kendi giok yang sudah lama berdiri anggun menantang di atas meja bundar kayu jati coklat tua.
Air sulingan Aren segera memenuhi tepi bibir ke dua cangkir.

“Silahkan diminum, Panglima Nala dan Senopati Utama, Wiraraja. Sungguh hanya dengan bantuan kalian berdua, aku, Gajah Mada dapat mencegah lembayung malapetaka yang membayang di atas langit Majapahit ini.”

“Ya Mapatih, kami telah bersamamu berpuluh tahun. Kami berdua tidak pernah menghianatimu dan kami selalu siap korbankan jiwa raga untuk Raja dan Majapahit. Lembayung petaka apakah itu, wahai Mapatih?” sambut Wiraraja sekaligus bertanya.

“Aku percaya Senopati Wiraraja, memang engkaulah pamungkasnya Majapahit.”  Menarik napas sejenak, Gajah Mada melanjutkan getir, “Namun saat ini Raja yang akan menghianati Majapahit.”

“Hah,!” Nala menoleh kaget ke arah tuan rumah disertai pelototan tajam mendesak penjelasan.

“SrrrttTTT….!” Wiraraja mencabut keris yang terselip dipinggangnya. Masih dalam posisi duduk di sebelah Nala, Wiraraja menggeram bak Harimau luka, “Ya Mada, telah kulalui berpuluh ekspedisi malang melintang untuk Majapahit hingga rambutkupun memutih. Sekarang jelaskan katamu itu atau keris ini akan segera keluar dari warangkanya, untuk mandi darahmu!”

“Sabar Senopati, Mapatih Gajah Mada tidak mungkin bicara sembarangan apalagi mengenai Raja. Dengarkan penjelasannya dahulu. Aku, Nala tak akan ragu menyeretnya ke Mahkamah Nagara bila memang, Mapatih hanya melemparkan dusta dan fitnah terhadap Raja.”
1302277649627857333“Tidakkah kalian berdua tahu bahwa kedatangan rombongan Sunda untuk mengambil Raja sebagai mantu? Raja akan pergi ke tanah Sunda dan menjadi Raja disana. Bila Pernikahan Agung itu terjadi, pastinya Majapahit akan menjadi wilayah bawahan Sunda,” balas Gajah Mada, heran. Mengapa kedua tamunya tidak mengetahui keputusan kenegaraan sepenting itu.

Di kejauhan pandang, serombongan burung bagai noktah- noktah hitam terbang dalam formatur yang indah menuju lereng biru Gunung Anjasmara.

“Mereka tidak bermaksud menghantar Putri Sunda kemari untuk menjadi Permaisuri Majapahit. Pihak wanita yang datang berbesan!? itu tidak lazim! Percayalah, kedatangan mereka hanya untuk memamerkan kecantikan Putri Sunda, mengambil hati Gusti Prabu dan memboyong beliau pergi,!” tambah Gajah Mada.

“Sungguh aku buta politik, ya Mapatih. Demi keluhuran budi, Maafkanlah Wiraraja karena telah berlaku begitu kurang ajar, ya Mapatih,” tukas Nala geleng- geleng selepas tercenung beberapa saat.

“Ia bisa meminta maaf sendiri padaku, ya Panglima,” sahut Gajah Mada seraya menatap Wiraraja dingin.

“Ampuni aku, ya Mapatih dan teruslah jelaskan pada kami duduk persoalannya. Sungguh kami hanya tahu sedikit strategi tempur dan keprajuritan. Benar kata Panglima, aku buta politik, ya Mapatih,” ucap Wiraraja menunduk malu seraya tangannya menyelipkan kembali keris ke belakang pinggangnya.
1302330293106201089Menghela napas panjang, Gajah Mada berkata pada Wiraraja, “Raja akan menghianatimu, Senopati. Menghianati jerih payahmu menaklukan seantero jagat!” Mengalihkan pandangan ke Nala, iapun menyambung, “Raja juga akan menghianatimu, Panglima. Menghianati segala susah payahmu membesarkan angkatan perang Majapahit! Raja, ia akan menghianati segala pengorbanan kawula dan seluruh rakyat anak nagari. Sekali lagi kukatakan kepada kalian berdua, Raja akan menghianati Majapahit dengan menjadi Raja di Sunda dan memindahkan Ibukota ke sana! Dan kita  akan menjadi petinggi negara kelas bawah, segera!!”

Hening.
Angin berdesir mengajak dedauan di pucuk pohon samping kiri kediaman Gajah Mada menari.
Debu merayap anggun di atas permukaan bumi.
Helaan napas ketiganya menutup kebisuan.
Gajah Mada meraih cangkir dan menenggak isinya habis.
Nala diam tafakur hanya tangannya memutar- mutar cangkir diatas meja, gelisah.

Wiraraja tanpa sopan santun menandaskan isi cangkir lantas meletakan cangkir dengan keras keatas meja, “Braa..Aa…~~
 …~~aAk.!” sekepalan tangan menghantam meja ruang dalam pesanggrahan Bubat, penuh semangat empunya berkata, ” Majapahit pasti akan jatuh ke tangan Sunda, Dinda Permaisuri. Kita berdua akan dengan tenang menikmati sisa hidup di biara karena seantero Nusantara akan berada di bawah Sunda. Hayam Wuruk, ia cucu pamanku Jaka Tanduran Wijaya dan memanglah pantas ia meneruskanku mengemban tahta Sunda.”

“Kanda Prabu Linggabuana, Dinda juga merasa sudah saatnya kita bersiap menjemput nirwana di biara. Dinda akan menemani Kanda, setia hingga akhir hayat,” jawab permaisuri tanpa ragu seraya kedua tangannya sibuk meraba daun telinganya, sibuk melepaskan anting yang terbuat dari permata mutu manikam yang berkilau~~….
…~~Kemilau air sendang menyambut dua sosok tubuh wanita separuh baya yang berbalut kain batik setinggi lutut sebatas atas dada.

Seiring dengan hadirnya kematangan usia keduanya, kecantikan mereka bertambah- tambah. Tak mau kalah cepat berlomba dengan keanggunan.

Aneka bunga menggeliat di atas permukaan sendang, menepi untuk memberi tempat keduanya bercengkrama.
13023276081041013810“Dinda Rajadewi BreDaha, kuharap keputusanku mengungsikan Putraku, Hayam Wuruk ke tanah Sunda tidak keliru,” ujar salah satu dari mereka yang terlebih dahulu merebahkan punggung di dasar sendang dangkal kompleks Kakaputrenan Agung itu.

“Tidak, Kanda Tunggadewi BreKahuripan. Biarlah kemenakanku, Hayam Wuruk dididik di tanah Sunda hingga kelak ia siap menjadi Raja Majapahit yang kuat. Lepas dari bayang kuasa dan pengaruh Gajah Mada yang begitu mengerikan. Kuharap dalam beberapa tahun ke depan, Gajah Mada segera renta, pikun atau mampus,!” jawab Rajadewi, gusar.

“Ya, benar katamu itu, Dinda Rajadewi BreDaha. Gajah Mada dengan kuasa dan pengaruhnya dapat dengan sekejap membunuh kita sekeluarga kapanpun ia mau. Sesungguhnya aku telah lama menaruh curiga, Gajah Madalah dalang dari pembunuhan Kanda Prabu Jayanegara. Sebagaimana Ken Arok, begitu saja membunuh Kebo Ijo beratus tahun lalu. Begitulah Gajah Mada membunuh RaTanca, si pembunuh Kanda Prabu Jayanegara,” tandas Tunggadewi tak kalah gusar. Jengkel, diciduknya air sendang dan dilemparkannya begitu saja hingga memercik di udara~~…
…~~Dalam naungan tetes gerimis, di bawah payung kebesaran, seorang lelaki belia dengan mahkota di atas kepalanya bertanya, “Pamanda Prapanca, ada apa ini!? Mengapa ribuan pasukan Majapahit mengepung Pesanggrahan Bubat ini!?”

“Ampun, Gusti Prabu Hayam Wuruk, sungguh patik juga tak mengerti. Namun, hanya Mapatih Gajah Madalah yang bisa menggerakan pasukan sebesar ini, Gusti Prabu,” jawab Prapanca seraya celingak- celinguk kebingungan melepaskan pandang ke arah baris demi baris dan ribu demi ribu prajurit Majapahit bersenjata tombak yang teracung ke udara. Prapanca tak pernah peduli cemo’ohan orang, setia mundak munduk mengiring kemanapun Hayam Wuruk belia pergi.

“Ibunda Tunggadewi, ada apa ini? Bibi Rajadewi, ada apa semua ini!? Tidak bisakah kalian menjelaskan kepadaku,?” tanya Hayam Wuruk kepada semua pembesar yang menggiringnya.

“Ananda Prabu, sungguh Bunda tidak tahu ada apa gerangan ini. Sebaiknya lekaslah kita bertemu dengan rombongan Sunda. Mudah- Mudahan tidak terjadi apa- apa dengan mereka, ” jawab Tunggadewi tak kalah masygul.

“Benar yang dikatakan Bundamu itu, Prabu. Hayo, lekaslah kita menemui tetamu dari Sunda itu,!” putus Rajadewi menutup kebimbangan.

Segera seribu prajurit pengiring bergerak maju,  mencoba membelah rapatnya barisan prajurit Majapahit yang berpuluh kali lebih banyak.

“Maharaja Hayam Wuruk akan lewat harap semua prajurit bersimpuh,!!” mengguntur suara hulubalang pimpinan  prajurit pengawal raja.

“Berhenti,!!” satu teriakan lantang balasan mencegah rombongan melangkah lebih jauh ke depan. Empunya suara tergopoh datang. Berjongkok takzim menghaturkan sembah ia berkata,”Ampun, Gusti Prabu. Ampun, Ibu Suri Gusti Ayu Tunggadewi, Ampun Gusti Ayu Rajadewi, dimohon rombongan agung untuk segera kembali ke Keraton Majapahit. Disini tidak aman, ampun, Gusti!”

“Ada apa ini, Wiraraja!? Mengapa pasukan Majapahit berada disini,!? tanya Prapanca membentak.

“Ampun, Gusti Mantri. Patik hanya menjalankan tugas mengamankan Majapahit. Urusan tanya jawab adalah urusan Gusti Mapatih Gajah Mada. Tugas patik hanyalah mencegah rombongan agung menemui tetamu Sunda,” jawab Wiraraja, tegas.

“Apa katamu, wiraraja!? Kurang ajar sekali engkau! Berani menghalangi Gusti Prabu,!” tukas Prapanca emosi seraya tangannya mencabut sebilah keris dari pinggangnya.

“Cling,,cing!!” Segera Ratusan mata tombak siap menghujam lambung Prapanca. Mencegahnya maju lebih jauh mendekati Wiraraja.

Tak kalah sigap, barisan terdepan pasukan penggiring rombongan agungpun mengacungkan mata tombak demi melindungi Prapanca.

Tombak beradu mata, saling mengintai.
Tetes gerimis membasahi wajah tegang ribuan para prajurit yang tengah berhadapan.
Hening.
Air hujan yang jatuh menetes di mata tombak meluncur turun ke bumi, bersatu dengan tanah.
Wiraraja tetap berjonkok takzim dengan tundukan kepala yang dalam.

“Pamanda Wiraraja, apakah engkau akan membunuh kami semua,!?” Hayam Wuruk berseru memecahkan kebisuan.

“Ampun, Gusti Prabu. Mapatih memerintahkan kepadaku, jika perlu membunuh siapa saja rombongan agung yang memaksa menemui tetamu Sunda, kecuali Gusti Prabu,!” keras dan tegas jawaban dari Wiraraja menyebabkan Hayam Wuruk belia tak lagi mampu menahan emosi.

“Maju,!!” Hayam Wuruk memberi perintah.

“CrangGG!! TangG!!” Tombak telah beradu.

Wiraraja menyingkir untuk mengatur pasukan.

Dua pasukan terlibat pertempuran di bawah rintik gerimis.
Dikejauhan...,

Diatas undakan anak tangga Pesanggrahan Agung, Prabu Linggabuana bertanya kepada seorang satria tua yang berdiri gagah disebelahnya, “Senopati Madipura, mengapa pasukan Majapahit menyerang rombongan agung Raja Majapahit itu?”

“Ampun, Gusti Prabu. Tampaknya ada konflik di dalam tubuh Majapahit. Sepertinya kita salah kira, pasukan Majapahit yang memenuhi pelataran Pesanggrahan Agung Bubat ini bukanlah untuk memberikan penyambutan kehormatan kepada kita tetapi sebaliknya mereka hendak membunuh Raja mereka sendiri, tatkala Raja Majapahit itu datang mengunjungi kita. Bukankah kemarin, Patih Majapahit, Gajah Mada menolak keinginan kita untuk memboyong Hayam Wuruk ke tanah Sunda, Gusti Prabu.”

“Hmmh.., gawat sekali! Lalu apa tindakan kita, Senopati? Apakah kita akan berdiam diri saja?”
“Ampun, Gusti Prabu. Bila mereka berhasil membunuh Raja mereka sendiri, Hayam Wuruk, setelah itu mereka pasti akan ganti menumpas kita, tetamu Rajanya. Mohon ampun, Gusti Prabu.”

“Benar katamu itu, Senopati. Kalau memang begitu, segera siapkan pasukan untuk turut berperang bersama Hayam Wuruk. Sepertinya jika terlambat sedikit saja, Hayam Wuruk pasti akan segera tewas,” ujar Linggabuana seraya melempar pandang ke titik pertempuran yang tidak berimbang di kejauhan pelataran.

“Sudah suratan nasib, jika kita semua memang harus mati di negari orang ini, Senopati.”

Tak berapa lama dua ribu prajurit Sunda sudah merentangkan busur mereka menunggu perintah.
“TembaAaak,!” Madiputra memberi perintah.
13023447232021166276“Suutt!! SwinggGG!!” Sekejap dua ribu mata anak panah melayang di udara. Tanpa ampun menerjang ribuan pasukan yang tengah mengurung rombongan Hayam Wuruk yang keteter hebat karena kalah jumlah.

“Panah!! PanaaAAHH!! Perisaiii!! Tameng,!!” Pekik Nala kaget dari satu sudut pelataran. Telunjuknya mengarah ke sudut dimana pasukan Wiraraja tengah menahan gerakan rombongan agung Hayam Wuruk. Tak diduganya, pasukan Sunda begitu gegabah melepaskan ribuan anak panah.

“Gila betul si Linggabuana ini! Dia berani menyerang kita terlebih dahulu tanpa basa- basi etika dalam memulai perang,!” sungut Gajah Mada menutupi keterkejutannya.

“Srap!! CRApt! TapP,!” ribuan anak panah menancap di ribuan perisai yang digunakan menutupi kepala prajurit Majapahit.

“ArRrggGG!! AhAHkK,!!” pekikan kematian terdengar dari puluhan serdadu yang terlambat melindungi diri dari hujan anak panah dalam lengkungan rintik gerimis.

“TembaAAkkKK,!!” kembali Madipura memberikan perintah mengguntur.
Kembali ribuan mata anak panah membentuk lengkung pelangi hitam.
Kembali puluhan serdadu Majapahit meregang nyawa.

“Panglima! Cepat lakukan sesuatu! Atau kita semua habis diterjang panah orang- orang Sunda itu,!” perintah Gajah Mada geram melihat keadaan Nala yang masih berdiri diam mamatung.

“SerbuuUuu,!” tak ayal Nala memberi perintah kepada ribuan serdadu Bhayangkara yang bersamanya.

Mereka tidak terkena hujan panah karena berada di sudut yang berbeda dengan pasukan Wiraraja.

“Jaga rombongan agung ini! Separuh pasukan ikut bersamaku sekarang juga! Menghancurkan orang- orang Sunda pembokong itu,!!” perintah Wiraraja kepada dua orang Punggawa yang bersamanya.

Sekejap orang- orang Sunda terkepung dari dua sudut.

Pertempuran di titik Hayam Wuruk berhenti berkecamuk.

Hanya tersisa seratusan prajurit Belapati Raja yang masih hidup, selebihnya telah terbantai pasukan Wiraraja.
Mereka hanya bisa siaga beradu pandang dengan dua ribuan prajurit Majapahit yang masih mengurung.

“TembaaAAaaAAkkkKK,!!” kembali suara Madipura membahana.
Kembali tercipta lengkungan hitam hujan anak panah.

Kini, bukan hanya ratusan pasukan Wiraraja meregang nyawa, puluhan prajurit Bhayangkara Panglima Nala pun ikut kelojotan.

Wiraraja tak peduli anak buahnya yang terluka, tetap gagah memimpin, menerjang maju.

Nala acuh dengan pasukan Bhayangkara yang terjengkang terkapar melepas nyawa, kakinya berlari cepat untuk segera dapat mendekati para prajurit Sunda.

“TombaaAaAAkKK,!” Madipura mengguntur mengatur strategi.

Dua ribu mata tombak siaga ke muka menyongsong gempuran pasukan Majapahit yang datang dari dua sudut.

Dibelakang pasukan tombak, seratusan pasukan perempuan Sunda pengawal Permaisuri tetap melepaskan anak panah bertubi- tubi.

Sekejap kedua kubu bertemu.
Jeritan dan pekikan kematian membahana memenuhi pelataran pendopo Pesanggrahan bubat.

Waktu demi waktu berlalu.

Menjelang senja...,

Pertempuran berakhir.

Ribuan mayat serdadu bergelimpangan disana- sini.
Bau amis darah mengundang selera, serombongan burung berputar- putar di udara.
Para prajurit Sunda tak ada lagi yang tersisa.
Prabu Linggabuana tewas terlentang dengan sebilah tombak menembus punggung hingga menghujam langit. Permaisurinya gugur tertelungkup dengan sebilah pedang menembus jantung menancap bumi.

Hayam wuruk melangkah maju.

Pasukan Majapahit yang mengurungnya sekian lama membuka jalan.

Sunda sudah habis.

Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan untuk bisa ditemui sang Raja. Izin menemui jenazah tetamu Sunda diberikan tanpa sepatah kata dalam keheningan yang kontras dengan kegaduhan suasana perang yang baru saja berlalu.
13023534621254984811Di atas undakan tangga pedopo Pesanggrahan Agung Bubat....

Seorang dara jelita berdiri dalam diam. Kakinya melangkah anggun menekuri anak tangga.

“Dyah Pitaloka Citaresmi..,bukan main, aslinya lebih cantik dan anggun daripada lukisan si Prabangkara,” gumam Gajah Mada takjub di tengah pelataran Bubat, diantara tumpukan ribuan mayat.

Tiba di depan mayat ayahandanya yang masih mengenakan mahkota, Dyah Pitaloka tak lagi kuat menahan gempuran suasana hati. Tubuhnya limbung, jatuh dengan keras di atas tubuh ayahandanya.

“TidaaaaAaaAkkkkKKK,!” Hayam Wuruk menyongsongkan tangannya kemuka berharap sesuatu yang lebih buruk untuk tidak terjadi.

Terlambat.

Dyah Pitaloka rubuh tepat di atas tombak yang menembus punggung ayahandanya. Sesaat tubuhnya berguling kesamping jenazah ayahandanya. Dengan lenguhan kecil, ia meregang nyawa. Matanya sedikit terbuka menatap senja di langit Bubat.

Hayam Wuruk serta merta menubruk tubuh kaku Dyah Pitaloka yang tak lagi berjiwa. Dengan bersimpuh di dekapnya erat Putri Sunda itu. Dipandanginya keayuannya. Sesalnya tak terbayar meskipun langit runtuh dihadapannya. (would you hold my hand)

Gerimis cinta menari dihadapannya dalam bentuk kepedihan yang luar biasa. Penuh kecewa ia bekata memilukan kepada langit, “Pamanda Gajah Mada, inikah yang kau inginkan?? Mengapa tak kau bunuh saja aku!?” (If  i saw you in heaven)

Ribuan prajurit Majapahit yang tersisa berjongkok takzim menundukan kepala dalam. (Would you help me stand)

Panglima Nala membuang pedangnya, ikut menjongkok takzim. (If  i saw you in heaven)

Senopati Utama Wiraraja berjongkok menyandarkan keningnya di atas kerisnya yang menghujam bumi. (I’ll find my way through nite and day)

Prapanca melemparkan lencana Kemantrian ke bawah kaki Gajah Mada seraya membuang ludah. Bulat sudah tekadnya untuk menyepi dari segala hiruk pikuk kedekilan Majapahit. (Cause I know I just can’t stay here in heaven) 

Rajadewi turut bersimpuh di hadapan Hayam Wuruk yang masih terisak dahsyat mendekap jasad Dyah Pitaloka.

Melewati muka Gajah Mada, Tribuanatunggadewi berujar pelan, “Bahagiakah kau, Mada melihat putra kandung rahasiamu merana dan calon Permaisurinya tewas mengenaskan seperti itu?”

Satu lampu yang menyorot ke arah kanan dan satu lampu lain yang menyorot ke arah kiri dalam gedung, menyala.

Tak berapa lama, tampak beberapa siluet pengunjung berdiri meninggalkan kursi merah beludru bernomor.
1302356479372566374Sekejap....,

Seluruh lampu yang bertugas menyinari ruang dalam gedung menyala serempak.
Suasana terang menemani pengunjung melangkahkan kaki keluar gedung.
Depan ujung undakan anak tangga paling bawah, di tengah dinding ruang dalam gedung yang berlayar putih, terbaca tulisan dalam huruf merah besar- besar, “THE  END”

Akhir Casanova Mengukir Karier Cinta


132842353498628116 
Juan, sebutlah namanya, seorang pria mendekati 40-an. Masih terlihat jelas di wajahnya kegantengan nan memukau pada masa muda. Cerita ini diangkat berdasarkan kisah nyata yang dialami empunya nama belasan tahun lalu di masa ia masih menjadi mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup beken di Ibukota.

Asap rokok menghembus lembut, menerawang ke masa silam, Juan yang kini duduk di kursi roda karena menurut kabar, urat kakinya putus digigit seekor anjing gila, memulai sebuah cerita.

“Esok pagi, tepatnya satu hari menjelang Valentine adalah puncak karierku sebagai seorang Casanova. Ya, karier yang tak seorangpun di kampus ini tahu, bahkan tidak juga para korban rayuanku. Tak satupun diantara mereka membenciku. Hmm.., para wanita korbanku selalu beranggapan akulah si pelipur lara rahasianya. Ya, pelipur lara rahasia! Tak satupun dari wanita yang pernah kucumbu itu tak punya pacar, gandengan atau malah tunangan! Kacamata minusku telah melindungi sepak terjangku, menurut para mahasiswa akulah si Cemen atau si Cupu dengan kekasih segala diktat dan buku. Akan tetapi, menurut kekasih mereka yang cantik-cantik itu, akulah tempat berlabuh segala duka dan luka karena cinta,” bathin Juan tersenyum lebar.

Masih diingat Juan, keringat lelah Sinta, peluh letih Linda dan wajah lepas bebas Yosy bak musafir gurun yang kehausan menemukan jernihnya air sebuah oase. Jelas terngiang ditelinganya, jerit Desi, erangan garang Dian dan lenguhan berat Tita sebelum tertidur sepulas-pulasnya. Di pelupuk matanya, masih ada terbayang banyak Ekspresi raut wajah korbannya ketika mereka ia bawa terbang ke puncak. Ia merelakan punggungnya menjadi wadah relief banyak kuku-kuku lentik korbannya. Ia sediakan jemarinya menjadi pelampiasan gigi-gigi ketimun mereka.Bahkan tak jarang rambutnya menjadi korban jambakan liar teman-teman wanitanya yang notabene, mereka itu adalah kekasih rekannya sesama mahasiswa juga.

Geli hati Juan ketika suatu saat Siska bertanya di tengah rasa rileks menikmati derasnya kucuran keringat, “Juan, kok kamu lain ya? Lebih mantap dari si Rio pacarku bahkan si Bram pacar pertamaku yang pebasket itupun ngak ada apa-apanya, lho?” Tertawa hati Juan, saat Kartika meratap padanya di meja kantin kampus, “Juan, sumpah deh, si Angga itu payah betul tak lebih dari 2 menit. Kapan lagi donk, Juan?”
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat rahasia serupa yang meluncur dari bibir para korbannya saat mereka sakauw kecanduan.

Tak satupun dari para pecandu itu yang tahu bahwa ia sebenarnya seorang Casanova yang berhasil membantai seluruh anggota sebuah genk yang terdiri dari para mahasiswi hi-class. Tak satu katapun cerita tentang kisah asyik masyuknya keluar kepasaran. Ia, seorang mahasiswa kutu buku tak punya pacar, itu saja!

Menatap hasil sisiran rambutnya kedalam cermin almari kamar tidurnya, ingatan Juan melayang tatkala Bu Dosen Rara yang masih cuahaaanntttiikkkk dalam usia 33 -an itu meminta tolong untuk mengantarnya esok pagi ke Bandung. “Juan, Esok pagi kamu bisa tidak, tolong kemudikan mobil saya ke Bandung. Adik suami saya akan menikah disana bertepatan dengan hari Valentine. Saya khawatir, karena kesibukan mempersiapkan akad dan resepsi, suami saya, tak bisa datang menjemput. Bagaimana, bisakan kamu?”

Hampir saja mata Juan melompat keluar karena SureEEpeeraaAAiiisssezzz, jika saja ia tidak ingat, matapun harus terlihat lembut hingga para calon korban merasa nyaman dan aman. Juan, mengetahui betul kata nenek, “jika seorang pria berduaan dengan seorang wanita maka orang ketiganya adalah setan!”

Demikian halnya dengan Bu Dosen Rara, jika berduan dengannya esok hari, ia berharap ada seribu setan garong menemani demi kesuksesan misinya. Sekalipun sebenarnya Bu Rara itu adalah istri dari Dosen seniornya sendiri, ia tak peduli bahkan setanpun mendorongnya untuk tak peduli. itulah puncak karier seorang CASANOVA sejati, berhepi-ria dengan istri orang tanpa ketahuan!

Pagi 14 Februari, Juan memacu motor kreditannya kearah Mampang Prapatan, area dimana Bu Dosen Rara dan suaminya, Pak Dosen Senior bertempat tinggal. Tiba di depan elang rokok yang bersarang di pinggir mulut sebuah gang yang hanya cukup dilalui satu buah motor dan satu buah mobil, Juan menghentikan motornya.

“Pak, ada Getsbi,?” tanya Juan pada empunya elang rokok.

“Getsbi? O, ada? Berapa?”

“Satu saja, Pak,” jawab Juan seraya menyerahkan selembar lima ratusan bergambar kijang kencana.
Setelah menyeka wajahnya dengan perfume tissue, Juan menyemprot sekujur kemejanya dengan senjata andalannya, Drakar Noir.

Empunya elang roko terbengong-bengong melihat kelakuan Juan, hidungnya kembang kempis kebagian sisa uap dari Drakar.

Juan tak peduli, ia tahu benar, Drakar Noir adalah aroma therapy khas padang rumput Arkansas yang mampu mengeksploitasi sisi-sisi kejantanan pria hingga tampil lebih mudah untuk membangkitkan libido kaum hawa. Ajaib, tiba-tiba sekujur tubuh Juan dilingkupi oleh cahaya Ke-PeDe-an berwarna jingga keemasan.

Sekali lagi, empunya elang rokok geleng-geleng sambil berkelakar, “Tarik maaaaanngggg!”

Juan hanya tersenyum simpul. Di arahkan motornya pelan-pelan menyusuri gang menuju rumah Bu Dosen Rara seraya tak lupa berdoa dalam hati,”Semoga setan benar-benar hadir diantara aku dan Bu Rara, amin”

Berhenti di depan pagar sebuah rumah asri yang terbuka, Juan celingukan. “Huaaahh, kok ada 2 mobil? Wuaaahhh ada mobil Pak Dosen senior juga, gawat nih!” Kecut, Juan bersiap ambil seribu putaran roda motor (Untuk pejalan kaki : ambil seribu langkah).

 Terlambat! 

“Ahk, kamu Juan. Sudah datang. Hayo masuk,!” ajak Pak Dosen Senior dari balik kap mobil yang terbuka, rupanya beliau sedang mengutak-utik mesin mobilnya sebagai persiapan untuk perjalanan jauh luar kota. “Saya baru sampai dari Bandung subuh tadi. Ini lagi cek mobil, kan harus siap untuk dipakai balik ke Bandung lagi”

Juan mengangguk-anguk, kikuk. “Sialan doaku meleset yang datang bukan setan tapi jin tomang,!” rutuk Juan penuh sesal.

“Oh, kamu, Juan. Syukurlah kamu sudah datang,” tegur Bu Dosen Rara keluar dari balik pintu. Beralih kepada suaminya, Pak Dosen Senior, ia berkata manja, “Ayo, Pap! Sudah ada Juan, kita bisa segera berangkat ke Bandung sekalian berlibur 3 hari disana.”

“Olala, apa- apaan ini?” rutuk hati Juan tak mampu buka mulut.

“Gimana sih kamu, Mam? Juan baru saja tiba, kok belum ditawari minum malah ngajak segera jalan!”

“O, iya, Juan, kamu mau minum apa? Teh, Kopi atau Sirup?”

“Oh, ndak usah, Bu. Saya sudah sarapan dan minum susu tadi pagi, kok. Jangan repot-repot, Bu,” sahut Juan, tak enak hati sembari hatinya gerutu “Bah! Susu kuda liar ndak guna!”

“Ya, sudah kalau begitu. Nanti kamu bisa bikin sendiri, Juan. Soalnya kami akan bepergian 3 hari dan kamu jagain rumah saya, ya?” tukas Bu Dosen Rara riang tanpa dosa.

Pak Dosen menatap Juan dengan pandangan memohon.

Juan kagok tidak karuan segera anggukan kepala, “iya, Bu.Iya!”

“Kalau begitu, ayo kita segera berangkat,!” putus Pak Dosen sambil menutup kap mobil.

“Ini sudah siap, kok Pap. Vita, ayo cepat keluar! Kita sudah mau jalan nih,!” panggil Bu Dosen Rara.

Tak lama seorang gadis kecil yang berusia 5 tahunan, putri pasangan Bu dan Pak Dosen berlari keluar bak cinderela kesasar langsung masuk pintu depan mobil dan duduk manis disebelah jok kemudi.

Ketika mobil meninggalkan garasi, dari balik kemudi Pak Dosen berpesan, “Juan, baik- baik ya! Anggap saja liburan 3 hari di rumah sendiri. Jangan lupa kalau tidur kunci dulu garasi dan pintu depan, ya! Oh, ya anjing saya, si Bleki buntut kecil setiap pagi ajak jalan jalan muter-muter taman supaya tidak e’e di dalam. Jangan lupa makanannya ada di bawah kaki meja teras. Terima kasih ya, Juan. Daaaa….”

Juan melongo takjub sembari mundak- munduk gaya orang Jepang ketemu Boss. Jauh dipojok teras rumah seekor anjing Doberman dewasa berbulu hitam mengamatinya sembari menggerakkan ekornya yang cuma sepanjang 5 cm dan memamerkan taringnya,” Grrrr…! Jangankan 3 hari, sehari aje, gue abisin loe!!!”

 

Arsip Blog

Cari/search

TRANSLATE

Tips